Harga Komiditi Ekspor di Solsel Stabil
Kabupaten - Kab. Solokselatan
Friday, 15 July 2011 11:43

Padang Aro, SitinjauNews - Harga beberapa komoditi ekspor di tingkat pengumpul di Solok Selatan, Sumatera Barat, dalam sebulan ini tampak stabil.

Seperti kakao kering, harga beli ditingkat pengumpul berkisar Rp21.000 per kilogram sampai Rp22.000 per kilogram.

Tanaman cokelat mulai dilirik petani Solsel jika dilihat dari luas perkebunan kakao rakyat yang meningkat, dari 739 hektare di tahun 2009 menjadi 1.061 hektare dengan produksi 190 ton per tahun.

Harga kakao kering, sebut pengumpul hasil bumi di Koto Baru, Sungai Pagu, Martoni (52), Kamis (14/7/2011), mengalami peningkatan sejak empat bulan lalu dari Rp18.000 per kilogram menjadi Rp21.000 per kilogram.

Ia mengaku, pasokan kakao dari petani masih membaik. Dalam 15 hari, Martoni mampu mengumpulkan kakao kering sebanyak satu ton.

Harga pinang kering, imbuhnya, juga masih stabil Rp8.000 per kilogram, harga kapulaga kering juga tidak bergerak dari Rp45.000 per kilogram sementara kapulaga basah Rp8.000 per kilogram.

Kemudian harga kayu manis (Cassiavera) kering juga stabil. Kayu manis kualitas bagus (A Double) mencapai Rp9.000 per kilogram, kayu manis kualitas sedang (asalan) Rp8.000 per kilogram, kayu manis yang tebal (KF/KM) Rp7.000 per kilogram, sementara kayu manis tebal dan masih ada kulit luarnya (KB) Rp5.000 per kilogram.

Martoni mengaku dirinya mulai sulit mendapatkan pasokan kayu manis. Sebutnya, hal ini disebabkan karena banyak petani yang berganti tanaman dari kayu manis ke karet.

"Menanam karet memang lebih menguntungkan ketimbang kayu manis karena bisa dipanen setiap hari," sebutnya.

Jika dilihat data perkebunan kayu manis di Solsel, luas perkebunan cassiavera ini memang mengalami penurunan dari 2.050 hektare di tahun 2009 menjadi 1.963 hektare.

Martoni berseloroh, jika kayu manis tidak ada lagi di Solsel, pihaknya akan berubah berdagang cokelat yang prosesnya masih cukup bagus.

"Kulit manis sudah mulai menipis. Kalau betul-betul tidak ada lagi (cassiavera), kemungkinan saya akan beralih pada cokelat," ungkapnya.

Selain kayu manis, sebutnya, pasokan kopi juga mulai berkurang karena musim panen telah berlalu. Dalam seminggu, Martoni mengaku hanya mampu mengumpulkan kopi sebanyak 500 kilogram. Mayoritas jenis kopi yang ditanaman masyarakat adalah arabika.

Selain kurangnya pasokan, harga kopi kering juga turun dar Rp22.000 per kilogram menjadi Rp18.000 per kilogram sejak dua bulan lalu.

Kopi juga mengalami penurunan produksi meskipun tidak signifikan, dari 1.363 ton di 2009, produksi pada 2010 turun menjadi 1.351 ton. Penurunan produksi kopi ini dipengaruhi konversi tanaman ke karet. Luas lahan kopi masyarakat di Solsel turun dari 3.905 hektare tahun 2009, menjadi 3.865 hektare tahun 2010. (*)


rssfeed
Email Drucken Favoriten Twitter Facebook Myspace Digg aol blogger google reddit YahooWebSzenario
 
Websitinjaunews!

Watch Video